Rabu, 08 Juni 2016

RESUME PENANGANAN LIMBAH INDUSTRI

KARAKTERISTIK LIMBAH CAIR INDUSTRI
            Limbah cair industri memiliki karakteristik yang berbeda disetiap pabrik sehingga regulasinya juga berbeda pada setiap tempat. Pengendalian limbah artinya mencegah timbulnya atau meminimalisir jumlah limbah yang dihasilkan. Penganganan limbah artinya membuat limbah yang ada menjadi tidak berabahaya atau bisa dimanfaatkan tanpa merubaj karakteristik limbah tersebut. Sedangkan pengolahan limbah artinya mengolah limbah dalm segi fisik, sifat, kimiawi, dan biologis agar dapat dimanfaatkan atau dengan merubah karakteristik dari limbah tersebut.
            Suatu industrI yang melakukan suatu proses produksi memiliki beberapa produk yang dihasilkan. Produk utama adalah produk yang akan dihasilkan industry atau yang dikehendaki. Produk sampingan adalah produk ynag tidak dikehendaki tetapi masih memiliki nilai tambah. Hasil yang terakhir berupa limbah yang tidak dikehendaki yang harus dibuang karena tidak bernilai memiliki nilai tambah pada waktu dan ruang tertentu dan tidak bisa digunakan lagi. Sehingga suatu industry yang menggunakan air harus mengolah kembali limbah cair atau air tersebut menjadi cair yang bisa digunakan kembali.
Kandungan dalam limbah cair            :
1.      Bahan organic
2.      Padatan tersuspensi
3.      Nutrien            : nitrogen dan fosfor
4.      Pathogen         : e.coli dan salmonella
5.      Logam berat    : mercury, copper, nikel, caclmium, etc
6.      Bahan kimia organic : beberapa diantaranya karsinogenik

Dampak polutan dalam perubahan fisikawi berpengaruh pada padatan , ukuran partikel, turbiditas, warna, dan sebagainya. Pada kimiawi berpengaruh pada anorganik yaitu pH, alkali, air, minyak dan lemak. Dampak polutan pada unsure biologis berpengaruh pada mikroorganisme, pathogen, bakteri, virus, dan PCV.  Karakteristik limbah sangat penting sebagai acuan dalam perencaan sarana pengolah limbah sehingga dapat diciptakan sarana pengolahan limbah yang efektif dan efisien.

Volume air limbah       :
1          1.  Hydraulic load adalah jumlah volume limbah yang perlu diolah dan biasanya dinyatakan m3/ hari.
2.          2. Peak flow foad / flow rate adalah volume air per jam pada saat limbah mengalir.
3   3. Organic load adalah jumlah beban organic yang ada didlam limbah yang akan diolah dan   dinyatakan dalam BOD dan COD kg/hari, mg/L, kg,m3.

Parameter fisikawi meliputi :
1.      pH
2.      Suhu
3.      Warna
4.      Bau
5.      TSS
6.      Reduksi

Parameter kimiawi meliputi    :
1.      TOC (Total Organik Carbon ) adalah jumlah iktan pada senyawa organic
2.      BOD
3.      COD
4.      Minyak dan lemak
5.  Total petroleum Hydrocarbons (TPH) seperti benzene, toluene, BTEX yang bersifat toxsi dan karsigenik.
6.     N-NH3 (Nitrogen Amonia) makin tinggi nilainya dicairan limbah akan menyebabkan keracunan biota.

Parameter biologis meliputi     :
1.      Mikroorganisme dalam cairan limbah berbentuk padatan (deposit)
2.      Pathogen
3.      Mikro aerob
4.      Mikro anaerob

Parameter fisik meliputi          :
1.      Padatan
a.    TS (total padatan) adalah sisa hasil evaporasi semua air 50% organic dan 50% anoganik.
b.   SS (padatan tertahan) adalah sisa yang tertahan pada saringan, 75% organic 25% anorganik
c.   DS ( padatan tidak terlarut) adalah sisa yang lewat saring , 40% organic dan 60% anorganik
d.   SS (padatan yang ditempatkan) adalah sisa setelah 4 jam penangan didalam imhoff come
BOD atau Biologicel Oxygen Demand digunakan untuk mengukur jumlah zat organic yang dapat dioksidasi oleh bakteri aerobic, biasanya dalam masa limbah hari suhu 20 derajat celcius. Sedanagkan COD atau chemical Oxygen Demand adalah kelarutan oksigen kimia ialah oksigen yang diperlukan untuk merombak bahan organic dan anorganik. COD ini digunakan sebagai pembanding atau control terhadap nilai BOD.

TEKNOLOGI PENGOLAHAN LIMBAH CAIR
Beberapa bahan yang terkandung di dalam limbah cair, yiatu :
Ø  Bahan organik
Ø  Padatan tersuspensi
Ø  Nutrien : nitrogen dan fosfor
Ø  Patogen : E. Coli, salmonella
Ø  Logam berat : mercury, copper, nickel, zinc, cadmium
Ø  Bahan kimia organik (sintetik) : beberapa karsinogen, mutagen, teratogenik
Parameter dalam limbah :
Ø  Solid :
-          TSS, VSS
Ø  Bahan organik :
-          BOD5, COD
Ø  Komponen nitrogen :
-          NH4, TKN
Ø  Fosfor :
-          Total fosfor, PO43-
Ø  Alkalin
Unit proses dan tahapan pengolahan limbah cair :
Ø  Tenaga fisikawi : pengolahan awal, pengolahan primer, pengolahan tersier
Ø  Tenaga biologis : pengolahan sekunder
Ø  Tenaga kimiawi : pengolaham primer, pengolahan tersier
Contoh :
Ø  Tenaga fisikawi : saringan, equalisasi, sedimentasi, floatasi, filtrasi, grease trap dan grit chamber
Ø  Tenaga kimiawi : koagulasi-flokulasi
Tujuan :
Ø  Premliminary traetment : penyisihan bahan besar atau berat
Ø  Primary treatment : penyisihan bahan anorganik yang tersuspensi dan beberapa partikel organik
Ø  Secondary treatment : konversi secara biologis bahan organik baik yang terlarut maupun koloid menjadi biomassa
Ø  Tertiary treatment : penyisihan lebih lanjut bahan tersuspensi atau nutrien atau desinfection
1.      Equalisasi : teknik untuk meningkatkan efektifitas proses pengolahan limbah cair pada tahap berikutnya.
2.      Sedimentasi : proses pemisahan padatan yang terkandung dalam limbah cair dengan memanfaatkan gaya gravitasi.
Pertimbangan seleksi dan desain proses :
Ø  Kebutuhan energi
Ø  Efektifitas dalam penyisihan kontaminan
Ø  Lumpur yang dihasilkan dan pembuangnya
Ø  Kompleksitas
Ø  Reabilitas
Ø  Fleksibilitas
Ø  Biaya dan keharusan operasi dan perawatan
Ø  Kebutuhan personel
Ø  Biaya konstruksi
Ø  Biaya total

LUMPUR AKTIF
Lumpur aktif adalah massa biologi kompleks yang dihasilkan bila limbah organik diberi penanganan secara aerobik. Sistem yang biasanya digunakan adalah sistem lumpur aktif konvensional. System ini bekerja baik pada suhu 28ºC hingga 30ºC.

Unit Aerasi
Oksidasi aerobik material organik dilakukan dalam tangki ini. Efluent pertama masuk dan tercampur dengan Lumpur Aktif Balik (Return Activated Sludge =RAS) atau disingkat LAB membentuk lumpur campuran (mixed liqour), yang mengandung padatan tersuspensi sekitar 1.500 - 2.500 mg/l. Aerasi dilakukan secara mekanik. Karakteristik dari proses lumpur aktif adalah adanya daur ulang dari biomassa. Keadaan tersebut membuat sejumlah besar mikroorganisme mengoksidasi senyawa organik dalam waktu yang singkat. Waktu tinggal dalam tangki aerasi berkisar 4 - 8 jam.

Clarifier/Tangki Sedimentasi
Tangki ini digunakan untuk sedimentasi flok mikroba (lumpur) yang dihasilkan selama fase oksidasi dalam tangki aerasi. Sebagian dari lumpur dalam tangki penjernih didaur ulang kembali dalam bentuk LAB kedalam tangki aerasi dan sisanya dibuang untuk menjaga rasio yang tepat antara makanan dan mikroorganisme.
Lumpur aktif harus mengandung bahan organik dan mikroorganisme, bahan organik ini nantinya akan diambil oleh mikroorganisme untuk dijadikan substrat. Unit aerasi harus ada suplai oksigen secara berkala dan memasukkan oksigen bisa dengan menggunakan sistem pengaduk dan lainnya. Hal yang perlu diperhatikan dalam lumpur aktif adalah suhu dan waktu. Limbah yang masuk ke unit aerasi harus diperhitungkan waktunya. Bila terlalu cepat, mikroorganisme akan bekerja kurang efektif, namun bila terlalu lama maka bahan organik dalam limbah akan habis dan ini tidak baik untuk mikroorganisme. Suhu yang digunakan 28ºC hingga 30ºC. Bila suhu terlalu tinggi dapat membunuh mikroorganisme namun bila suhu terlalu rendah maka mikroorganime akan kurang efektif.

Dalam tangki aerasi terjadi proses oksidasi dan sintesis, dimana saat ada limbah organik dan oksigen, maka menurut reaksi kimia:
CHONS + O2 + nutriens à CO2 + NH3 + C5H7NO2 (bakteri) + produk akhir
Selanjutnya, terjadi proses respirasi endogenus pada bakteri yang sudah tua dan tidak mampu mencari makan sendiri. Reaksi kimia yang terjadi:
C5H7NO2 + 5O2 à 5CO2 + 2H2O + NH3 + energi

BIOLOGYCAL GROWTH CYCLE

Biological Growth Cycle menunjukkan grafik antara banyak sel terhadap waktu. Ada 4 fase yaitu lag, log, stationary, dan log death. Lag berarti fase pertumbuhan lambat, biasanya ini terjadi pada awal watu. Log berarti fase pertumbuhan cepat, ini terjadi setelah fase lag. Stationary tidak terjadi pertumbuhan sel dalam beberapa waktu kemudian log death yaitu fase penurunan, fase ini terjadi karena sel telah tua dan tidak mempu mengkonsumsi lagi.
Parameter untuk mendesain sistem lumpur aktif:
1.       F/M (Food to Microorganism Ratio)
    F/M =    Q x BOD5
                    MLSS x V

Mikroorganisme memiliki kemampuan makan polutan dalam jumlah tertentu. Bila mikroorganisme banyak namun makanan sedikit, maka mikroorganisme akan kekurangan makanan dan hal ini tidak baik untuk kesehatannya. Dengan mengetahui jumlah BOD dan mikroorganisme maka kita dapat menentukan volume tangka
2.      Volumetric BOD Loading
VL = (I×Q)/V …….. kg BOD/m3/hari
Volumetric BOD Loading atau bebabn BOD adalam jumlah massa BOD di dalam air limbah yang masuk (influent) dibagi dengan volume reaktor
3.       Hidraulic Retention Time (HRT)
HRT adalah waktu rata-rata yang dibutuhkan limbah cair untuk berada di dalam tangki aerasi. HRT dirumuskan :
HRT = (24V)/Q ………. jam
dimana V adalah volume tangki aerasi dan Q adalah debit air limbah yang masuk ke dalam tangka aerasi.
4.       Sludge Volume Index (SVI)
SVI adalah kemampuan mengendapkan lumpur dengan menentukan indeksnya. Campuran lumpur dan air limbah dari bak aerasi dimasukkan dalam silinder kerucut volume 1 liter dan dibiarkan selama 30 menit. SVI menunjukkan besarnya volume yang menempati 1 gram lumpur. Rumus yang digunakan adalah :
SVI = SV/S ….. ml/g
dimana SV adalah volume endapan lumpur dalam silinder kerucut setelah 30 menit dan S adalah campuran antara air limbah dengan mikroba serta padatan tersuspensi lain.
5.       Recycling Ratio (RR)
Recycling ratio adalah perbandingan antara debit aliran dari tangki sedimentasi ke tangka aerasi dengan debit effluent. Rumus yang digunakan :
RR = Qr/Qi = S/R
6.       Solid Retention Time (SRT)
SRT adalah waktu tinggal rata-rata solid di dalam sistem reaktor.
SRT = ( Sa × Sx )/ ( Ss + Se)
dimana Sa adalah kuantitas lumpur aktif dalam tangka aerasi, Sx adalah lumpur aktif dalam tangka sedimentasi, Ss adalah kuantitas lumpur, dan Se adalah kuantitas SS effluent.
7.        Required Oxygen ( RO )
Required oxygen adalah kebutuhan oksigen yang dibutuhkan agar proses metabolisme dari mikroorganisme untuk mengolah bahan organik di dalam limbah cair. Semakin banyak bahan organik maka semakin banyak asupan mikroorganisme akan oksigen.
RO = (a×Lr) + (b×La)
dimana a,b adalah koefisien pada grafik, Lr adalah BOD yang dihilangkan, dan La adalah kualitas lumpur aktif dalam tangka aerasi.
8.      pH biasanya 6-8
Mikroorganisme tidak efektif pada pH yang terlalu asam ataupun yang terlalu basa.
9.      Nutrient balance
Perbandingan bahan organik dalam limbah cair saat masuk ke tangki aerasi harus memiliki perbandingan  yang tepat dengan oksigen dan mikroorganisme.
BOD : N : P = 100 : 5 : 1
10.   YC ( mean cell-residence time)
Masa mikroorganisme dalam reaktor dibagi dengan massa mikroorganisme yang dipindahkan dari sistem per hari.
YC = ViX / (QWX + QeXe)
dimana QW adalah debit limbah yang keluar dari system, Qe adalah debit limbah dari unit  pengendapan, dan Xe adalah konsentrasi mikroorganisme pada efluent dari unit separasi.
11.  Efisisensi Proses
E = ((So-S)/So) ×100
Dimana So adalah konsentrasi substrat pada influent, S adalah konsentrasi substrat pada efluent.

Bahan organik dalam tangki aerasi makin ke kanan maka BOD semakin sedikit karena di konsumsi oleh mikroorganisme, karena itulah secara berkala bahan organik ditambahkan hingga tersebar. Bahan organik ini ditambahkan baik dari tengah tangki, ujung tangki, dan awal tangki.

ROTATING BIOLOGICAL CONTACTORS
Rotating Biological Contactors, biasa disebut RBC digunakan pada unit pengolah limbah. Bioreaktor adalah sebuah wadah untuk melakukan proses kimia yang melibatkan organisme atau substansi biokimia aktif yang diambil dari makhluk hidup. Biasanya bioreaktor berbentuk silinder, berkisar dari beberapa liter sampai meter kubik, dan dibuat dari bahan stainless steel. Fungsi utama bioreaktor ini adalah untuk mengurangi bahan organik. RBC terdiri dari satu seri kontaktor berbentuk cakram yang berputar dalam wadah atau bejana semi sirkular. Limbah cair dimasukkan secara teratur ke dalam bejana tersebut dan cakram diputar perlahan-lahan

RBC Sebagai Pengolahan Tahap Sekunder

Piringan dengan diameter2-4m berputar maka biofilm hanya sebentar didalam limbah. Rotasi keluar masuk limbah cair ada variasi siklus makan bakteri dan mikroorganisme yang membentuk biofilm. Kecepatan putaran kira-kira 1-2rpm yang merupakan putaran lambat.

Komponen RBC












Konstruksi RBC
Detail dari size of disc adalah 3 sampai 3.7m. Panjang shaft adalah 8 sampai 8.5m. Sedangkan panjang module adalah 7.6 sampai 8m. PVC atau plastic media is used for disc. Ketebalan plastik medis adalah 10mm.  Kecepatan putaran disc adalah 1 sampai 2rpm (rotation per minute). Nomor disc di module adalah 4 sampai 6 as per design.

Keuntungan RBC
·         Operasionalnya mudah
·         Konsumsi energi sedikit
·         Menghasilkan lumpur sedikit
·         Karena waktu kontaknya lebih lama, bisa mencapai 8-10 jam
·         Kebutuhan lahannya relatif sempit
·         Permukaan kontaknya relatif luas
·         Tahan terhadap beban kejut (shock looading) organik dan hidrolis
·         Peluruhan biomassa berlebihnya efektif
·         Konsumsi atau kebutuhan energi listriknya juga rendah dibandingkan dengan aerasi mekanis pada activated sludge dan trickling filter
·         RBC juga mampu mengolah air limbah timbulan aktivitas pertambangan yang mengandung senyawa beracun, besi, sianida, selenium

Kekurangan RBC
·         Masalah utama RBC adalah kerusakan pada materialnya seperti as, coupling, bearing, rantai, gear box, motor listrik
·         Biaya kapital dan pemasangan RBC bisa lebih mahal daripada activated sludge per debit per kualitas air limbah yang setara. Secara bioproses, kalau oksigen terlarutnya rendah dan ada sulfida di dalam air limbahnya maka bakteri pengganggu seperti Beggiatoa akan tumbuh di media RBC
·         Dibandingkan dengan unit lumpur aktif konvensional, biaya investasi RBC menjadi mahal kalau debit air olahannya besar. Oleh sebab itu, RBC lebih cocok diterapkan pada debit kecil, misalnya untuk air limbah rumah sakit, hotel, pabrik, kampus
·         Dalam desainnya, meskipun sudah banyak diteliti, belum banyak terungkap parameter desain yang berkaitan dengan bioproses kecuali rumus-rumus empiris. Itu sebabnya, desainer RBC selalu menggunakan tabel dan grafik yang dibuat oleh praktisi dan didasarkan pada parameter dari instalasi yang sudah dibangun.

Parameter Unjuk Kerja dari Sistem RBC
·         BOD surface loading
Berapa gram komponen BOD dimuatkan per hari per luas permukaan seluruh kontraktor. BOD Surface Loading yang biasa dipakai adalah 5-20 g/m2/hari, rata-rata 10 g/m2/hari AC Q LBOD

·         Hydraulic loading
Parameter yang menunjukkan berapa volume limbah cair per hari per luas permukaan seluruh kontraktor yang diolah dengan sarana RBC (l/m2/day). Dikarenakan parameter BOD Surface Loading lebih penting dan utama maka parameter hydraulic loading tidak begitu diprioritaskan atau prioritasnya lebih rendah. Akan tetapi kalau hydraulic loading terlalu besar, akan berpengaruh terhadap pembentukan mikroorganisme yang lebih cocok

·         Stage number
Apabila wadah RBC bersama rotor RBC dibagikan kebeberapa stage, karena kualitas limbah dalam setiap stage menjadi berbeda antara stage yang berada dihulu dan stage dihilir, maka jenis mikroorganisme muncul dalam setiap stage juga akan berbeda. Keanekaragaman mikroorganisme ini akan mengakibat kanefisiensi RBC yang lebih tinggi. Ada kalanya dalam sewadahpun ada perbedaan jenis mikroorganisme dari posisi hulu ke posisi hilir tergantung pada jenis media dan hydraulicloadingnya.

·         G value
G value menunjukkan kepadatan media yang dihitung sebagai volume wadah RBC perluas permukaan kontraktor (l/m2). G value biasa dipakai adalah 5-9l/m2

·         Diameter-berkaitandenganluaspermukaan
Diameter yang biasa dipakai adalah 1-3.6m. Kalau surfacearea dibutuhkan cukupluas, satu RBC dengan diameter besar lebih murah daripada beberapa RBC skala kecil, akan tetapi strukturnya harus cukup kuat. Dari aspek stage number, kalau surfaceareanya sama, RBC dengan diameter lebih kecil dan panjang lebih efisien daripada RBC dengan diameter lebih besar dan pendek.

·         Kecepatanputaran
Memutar rotor RBC lebih cepat, lebih banyak oksigen akan dipindahkan ke limbah cair dalam wadah RBC dari udara dan oksigen tersebut akan mempromosikan reaksi mikroorganisme. Putaran yang lebih cepat akan membutuhkan listrik lebih banyak. Memutar rotor terlalu cepat, pembentukan lapisan mikroorganisme akan menjadi sulit. Kecepatan putaran rotor RBC pada umumnya ditetapkan oleh peripheralspeed yang biasa dipakai adalah 15-20m.

·         Temperature
Reaksi mikroorganisme dipengaruhi oleh temperatur. Temperatur RBC bisa dioperasikan dengan baik diperkirakan 15–400C.

Faktor-faktor Efisiensi RBC
·         SurfaceArea
Kalau surfaceareanya lebih luas, terjadinya reaksi mikroorganisme yang lebih banyak.  Kapasitas memberikan oksigen terlarut. Kalau RBC mempunyai kemampuan lebih tinggi untuk memberikan oksigen ke mikroorganisme, reaksi mikroorganisme menjadi lebih berlimpah
·         StageNumber
Kalau stage number lebih banyak, efisiensi RBC menjadi lebih tinggi. Mass-transferrate lapisan mikroorganisme. Kalau lapisan mikroorganisme bersifat sebagaimana mass-transferratenya lebihtinggi, efisiensi RBC menjadi lebih tinggi.

Perbandingan RBC dan Lumpur Aktif
Item Comparison
RBC
Activated Sludge
Existence form of microorganism
Fixed film
Suspended
Microbial biota
Diverse
Simple
Energy consumption
Relatively small
Relatively large
Amount of excess sludge
Small
Large
Stability for load fluctuation
Stable
Unstable
Treated water quality
Suitable for moderate quality requirement
Responsible for high quality requirement
Operation/maintenance
Easy
Difficult
Biomass concentration
Uncontrollable
Controllable
Problems often faced
Clogging
Bulking
Flexibility for expansion
Large
Small
Initial investment
Advantageous for small/medium plant
Advantageous for large plant


PENANGANAN LIMBAH PADAT
Limbah padat terdiri dari bahan organik maupun bahan anorganik. Bahan organik dapat berupa sayur busuk, buah busuk, sampah daun, bagian tumbuhan yang sudah mati, dan lain sebagainya. Sampah anorganik dapat berupa plastik, kertas, kaleng, dan lain-lain. Limbah organik dapat diolah menjadi biogas ataupun kompos.

BIOGAS
Biogas adalah gas yang mudah terbakar dari hasil proses penguraian bahan organik oleh bakteri anaerob, yang kemudian digunakan sebagai bahan bakar pada mesin.  Komponen biogas terdiri dari 65% metana, 38% karbon dioksida dan 2% bahan lainnya ( N2, O2, H2, dan H2S). Manfaat penggunaan biogas adalah biogas merupaka energi bebas asap, investasi hanya pada pembuatan digester, ramah lingkungan, biogas dapat mengurangi metana di atmosfer, dapat dijadikan sumber energi listrik, terbarukan, dan residu pembuatan biogas dapat dijadikan lumpur aktif, Biogas ramah lingkungan karena sumber bahannya memiliki rantai karbon lebih pendek bila dibanding minyak tanah sehingga gas CO yang dihasilkan relative sedikit.
Proses terbentuknya biogas dalam digester ada tiga tahap, yaitu tahap hidrolisis, tahap asidifikasi, dan tahap pembentukan metana. Limbah organik dan sejumlah air mula-mula dimasukkan ke dalam digester melalui lubang pengisian atau inlet Di dalam digester terjadi proses fermentasi bahan organik oleh bakteri anaerob. Tahap hidrolisis yaitu bahan organik yang mengandung karbohidrat, lemak, dan protein akan diuraikan oleh bakteri fermentasi dan berubah menjadi senyawa dengan rantai lebih pendek.
Tahap asidifikasi atau pengasaman yaitu senyawa pendek hasil hidrolisis diolah oleh bakteri asetogenik untuk menghasilkan asam asetat, gas hidrogen, dan karbondioksida, bakteri memperoleh oksigen dan kerbon dari oksigen terlarut dalam larutan. Tahap pembentukan metana yaitu pembentukan gas metana dan karbon dioksida dari hasil tahap pengasaman berupa H2, CO2 dan asama asetat oleh bakteri metanogenesis. Gas metana kemudian dialirkan melalui selang atau pipa untuk ditampung dan digunakan.
Faktor yang berpengaruh terhadap produksi biogas meliputi kondisi anaerob, bahan baku isian, imbangan C/N, pH, temperature, dan starter. Kondisi anaerob harus dipertahankan dalam pembuatan biogas karena proses fermentasi dilakukan oleh bakteri anaerob sehingga instalasi pengolahan harus kedap udara. Bahan baku isian harus terhindar dari bahan anorganik, engandung berat kering 7-9%, dan keadaan itu dicapai dengan pengenceran menggunakan air. Imbangan C/N optimum untuk kehidupan dan aktivitas mikroba pengurai sebesar 25-30. pH optimum yaitu pada rentan 6,8-7,8, penurunan pH dapat diatasi dengan penambahan kapur (CaCO3) atau larutan kapur(Ca(OH)2). Temperatur optimum yaitu sekitar 36º-40º, perubahan temperature secara mendadak dapat menurunkan produksi biogas, hal itu dapat diatasi dengan menempatkan instalasi di dalam tanah. Starter atau mikroorganisme perombak bisa didapat dari membeli starter yang dijual di pasara, menggunakan lumpur aktif, ataupun isi rumen.

KOMPOS
            Kompos adalah bahan organik yang telah mengalami proses dekomposisi oleh mikroorganisme pengurai. Sumber kompos berupa kotoran hewan, sampah domestic, sisa limbah industri pangan, dan lain-lain. Fungsi kompos ada tiga meliputi sifat fisika, kimia, dan biologi. Fungsi kompos bagi sifat fisika tanah adalah memperbaiki struktur padat tanah jadi gembur atau tanah pasir jadi kompak, terdapat senyawa polisakarida sebagai perekat tanah, kandungan bahan organik tinggi, warna tanah gelap sehingga penyerapan sinar matahari lebih banyak. Fungsi kompos bagi sifat kimia yaitu sumber hara makromolekul dan mikromolekul, memperbaiki pH tanah, dan bahan organik pada kompos mampu mengikat ion logam sehingga tidak berbahaya bagi tanaman. Fungsi kompos bagi sifat biologi yaitu gas karbon dioksida pada kompos dapat digunakan tanaman untuk fotosintesis, kompos dapat memacu tumbuhan menghasilkan hormon, dan dapat mengurangi populasi nematode.
Proses dekomposisi materi organik menjadi pupuk kompos melalui reaksi biologis mikroorganisme secara aerobik dan dalam kondisi terkendali. Cara membuat kompos yaitu mula-mula memasukkan bahan organik yang telah di hancurkan kecil-kecil kedalam wadah, kemudian memberi starter atau mikroorganisme dan ditambah air hingga limbah padat menjadi tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering. Setelah itu tutup wadah dengan plastic, tidak lupa memberi lubang pada wadah atau tutup agar oksigen dapat masuk untuk digunakan mikroorganisme. Jaga suhu agar tetap pada rentang 40 hingga 60 derajat, karena bila lebih dari 60 derajat maka mikroorganisme akan mati. Dalam beberapa minggu bentuknya akan mulai halus, setelah lebih dari sebulan bentuknya akan menyerupai tanah dan kompos siap digunakan.
Prinsip pembuatan kompos adalah menurunkan rasio C/N bahan organik sehingga C/N kurang dari 20. Selama proses terjadi perubahan kuantitatif dan kualitatid yaitu zat organik berubah menjadi zat hara. N,P,K dibutuhkan mikroba decomposer untuk aktivitas metabolisme sel. Kotoran hewan digunakan sebagai starter karena dalam kotoran hewan ada bakteri selulosa yang dapat mencerna lignin, pektin, dan lain-lain. Faktor-faktor untuk membuat kompos adalah kelembaban (40%-60%), konsentrasi oksigen (10%-18%), temperature ( 35-55ºC), perbandingan C/N (25-30), pH (6-8), dan ukuran bahan ( 1-7,5 cm).  Ciri kompos matang adalah tidak berbau, remah, warna kehitaman, mengandung hara yang dibutuhkan tanaman, dan mampu mengikat air.

TEKNOLOGI PENGOMPOSAN
            Berdasarkan tingkat teknologi yang dibutuhkan, ada tiga kelompok yaitu teknologi rendah, sedang, dan tinggi. Pengomposan teknologi rendah atau windrow composting dilakukan dengan cara menumpuk kompos dalam barisan sejajar, kemudian tumpukan secara berkala dibolak-balik untuk meningkatkan aerasi, menurunkan suhu terlalu tinggi, dan menurunkan kelembaban kompos. Teknologi kompos rendah cocok untuk pengomposan skala besar, lama pengomposan 3-6 bulan tergantung karakter bahan kompos.
            Pengomposan teknologi sedang atau aeratic static pile terdiri dari gundukan kompos yang di aerasi statis, tumpukan kompos ini diberi aerasi dengan menggunakan blower mekanik. Tumpukan kemudian ditutup menggunakan terpal plastik dan waktu pengomposan 3-5 minggu. Cara lain yaitu teknologi terdiri dari bak kompos dengan aeasi di bagian bawahnya, sering ditambahkan cacing dan kompos matang dalam waktu 2 bulan.
            Pengomposan teknologi tinggi menggunakan peralatan khusus untuk mempercepat laju pengomposan, dimana pada alat ini terdapat panel-panel untuk mengatur kondisi pengomposan dan lebih banyak dilakukan secara mekanis. Teknologi tinggi lain yaitu drum berputar atau rotary drum composters yang dilakukan dengan memasukkan bahan yang telah dihaluskan dan bahan campuran kedalam drum, drum akar berputar untuk mengaduk dan memberi aerasi pada kompos.teknologi tinggi lain yaitu penggunaan boks atau tunnel composting system dimana bahan limbah dihaluskan dan dicampurkan secara mekanik dalam kotak skala besar. Pengomposan berjalan di dalam beberapa bak sebelum akhirnya menjadi produk matang. Kontrol dilakukan dengan komputer.

POLUSI UDARA
            Udara adalah campuran gas yang mengelilingi bumi dengan komposisi tidak selalu konstan. Komponen air berbentuk uap karena bergantung pada cuaca dan suhu. Udara bersih dapat diartikan komposisi udara kering yang relatif konstan. Polutan udara primer mencakup 90% dari jumlah seluruh polutan udara, ada lima kelompok yaitu NO, CO, hidrokarbon, SG dan partikel.yang dibebaskan dari aktivitas vulkanik. Karbon monoksida terbentuk karena pembakaran tidak sempurna antara karbondioksida dengan komponen mengandung karbon pada suhu tinggi, CO terbentuk dari aktivitas vulkanik, emisi gas alami, germinasi, kebakaran hutan, CO berbahaya karena merupakan radikal bebas yang dapat berikatan dengan hemoglobin dan membentuk zat toksik.
            Pengendalian CO di udara dapat melalui modifikasi mesin pembakar untuk mengurangi jumlah polutan selama pembakaran. Modifikasi ini dapat dilakukan dengan memasang reactor sistem exhaust termal agar pembakaran sempurna. Pengendalian lain yaitu dengan subtitusi bahan bakar fosil ke bahan bakar bebas residu. Pengendalian lainnya yaitu dengan mengembangkan sumber tenaga yang rendah polusi seperti misalnya sepeda motor dengan tenaga listrik, jadi tidak menghasilkan keluaran sehingga tidak mencemari lingkungan dan energinya terbarukan.

POLUSI PARTIKEL
            Polusi udara partikel memiliki tingkat toleransi sekitar 375 dan termasuk tingkat toleransi sangat rendah. Polusi partikel ditentukan oleh ukuran, densitas partikel, dan turbulensi atau aliran udara. Polusi partikel di atmosfer terhadap sifat optik mempengaruhi radiasi dan visibilitas energi matahari. Sumber polusi partikel adalah letusan gunung, hembusan debu dan tanah, bahan bangunan, peleburan logam, dan asap pembakaran. Pengaruh terhadap lingkungan yaitu dapat menimbulkan kerak tebal di permukaan daun dan kemungkinan adanya senyawa berbahaya pada tanaman yang berbahaya bagi hewan. Pengaruh terhadap manusia yaitu dapat merusak sistem pernafasan, bersifat racun, bersifat inert dan berpotensi membawa molekul gas berbahaya.
            Pengendalian untuk mengurangi polusi udara dapat menggunakan beberapa teknologi, beberapa diantaranya adalah sistem ruang pengendapan gravitasi, kolektor siklon, sikat basah, dan presipitator elektrostatik.  Ruang pengendapan gravitasi yaitu terdapat ruang panjang yang dilalui partikel sehingga perlahan-lahan terjadi pengendapan partikel pengotor kebawah akibat gaya gravitasi, sehingga udara yang keluar sudah bebas partikel.
 Gambar ruang pengendapan gravitasi

            Kolektor siklon atau pengendapan siklon adalah penendap debu atau abu yang ikut dalam gas buangan dalam ruang pabrik beredebu. Prinsip kerja pengendap siklon adalah pemabdaatan gaya sentrifugal dari udara atau gas buangan yang sengaja dihembuskan melalui tepi dinding tabung siklon sehingga partikel relatif besar jatuh kebawah.












Gambar kolektor siklon


 Gambar wet scrubber
Sikat basah atau wet scrubber memiliki prinsip jerja membersihkan udara yang kotor dengan cara menyemprotkan air daari bagian atas alat, sedangkan udara yang kotor dari bagian bawah alat. Pada saat udara yang berdebu melakukan kontak dengan air, maka debu akan ikut tersemprot air turun ke bawah. Partikel itu kemudian diserap oleh larutan penyerap.






Gambar presipitator elektrostatik
            Presipitator elektrostatik digunakan untuk membersihkan udara yang kotor dalam jumlah atau volume yang relatif besar dan pengotor udaranya adalah aerosol atau uap air. Alat ini membersihkan udara secara cepat dan udara yang keluar sudah relative bersih. Alat ini menggunakan arus searah atau DC yang penya tegangan antara 25-100kV. Alat ini berupa tabung silinder dimana dindignya diberi muatan positif, sedangkan di tengah ada sebuah kawat yang merupakan pusat silinder, sejajar dinding tabung diberi muatan negatif. Adanya perbedaan tegangan yang cukup besar akan menimbulkan corona discharge di sekitar pusat silinder. Hal ini membuat kotoran seolah terionisasi menjadi ion negatif dan udara bersoh menjadi ion positif dan masing-masing akan menuju elektroda yang sesuai. Kotoran yang menjadi ion negatif akan ditarik oleh dinding tabung sedangkan udara bersih akan berada di tengah-tengah silinder dan kemudian berhembus keluar.


LIMBAH B3 (BAHAN BERBAHAYA BERACUN)
            Limbah B3 menurut PP Nomor 74 tahun 2001 adalah bahan yang karena sifat dan atau konsentrasinya dana tau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat mencemarkan dana tau merusak lingkungan hidup, dana tau membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya. Limbah B3 menurut Occupational Safety and Health of the United Stte Government (OSHA) adalah bahan yang karena sidat kimia maupun kondisi fisiknya sangat berpotensi menyebabkan gangguan pada kesehatan manusia, kerusakan propert, dan atau lingkungan.
            Jenis limbah B3 dari sumber tidak spesifik yaitu limbah berasal dari kegiatan pemeliharaan alat, pencucian, pencegahan korosi, pelarutan kerak, dan lain-lain yang bukan proses utama.. Limbah B3 dari sumber spesifik yaitu sisa prosesindustri yang secara spesifik ditentukan berdasarkan kajian ilmiah. Limbah B3 dari bahan kadaluarsa, tumpahan, bekas kemasan, dan buangan produk yang tidak memenuhi spesifikasi yang ditentukan atau tidak dapat dimanfaatkan kembali.Uji karakter limbah B3 meliputi sifat mudah meledak, mudah terbakar, reaktif, beracun, infeksi, dan korosif. Uji toksikologi untuk menentukan sifat akut dengan melakukan pengukuran hubungan dosis respon antara limbah dengan kematian hewan uji dan menetapkan nilai LD50. LD50 adalah dosis leimbah yang menghasilkan 50% kematian populasi hewan uji.
            Pengelolaan limbah B3 meliputi kegiatan reduksi atau mengurangi jumlah dan sifat bahaya dan racun, penyimpanan sementara, pengumpulan, pengangkutan ke pengelola limbah B3, pemanfaatan limbah melalui kegiatan perolehan kembali (recovery), penggunaan kembali (reuse) dan daur ulang (recycle) dengan tujuan mengubah limbah B3 menjadi produk aman, pengolahan limbah B3 untuk mengubah karakteristik dan komposisi guna mengurangi sifat racun, dan tahap terakhir yaitu penimbunan limbah pada fasilitas penimbun agar limbah tidak membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan hidup. Tidak lupa untuk membangun pelapis pelindung untuk mencegah kontaminasi limbah B3 ke lingkungan, ini dapat berupa sintetic liner atau compacted clay atau lapisan lain yang permeabilitasnya sama.

TEKNOLOGI PENGOLAHAN LIMBAH B3
            Proses pengolahan dapat dilakukan secara kimia maupun secara fisika. Secara kimia meliputi reduksi oksidasi, elektrolisa, netralisasi, presipitasi, solidifikasi, absorpsi, penukaran ion, dan pirolisa. Secara fisika ada tiga jenis yaitu pembersihan gas, pemisahan cairan dengan padatan dan penyisihan komponen-komponen spesifik. Pembersihan gas meliputi elektrostatik presipitator, penyaringan partikel, wet scrubbing,dan adsorpsi dengan karbon aktif. Pemisahan cairan dengan padatan meliputi klarifikasi,koagulasi, filtrasi, flotasi, sedimentasi, dan thickening. Penyisihan komponen-komponen spesifik meliputi adsorpsi, dialisa, elektrolialisa, evaporasi, leaching, osmosis balik, ekstraksi solven dan stripping.
            Netralisasi adalah pencampuran limbah dengan suatu bahan yang dapat membuat pH limbah pada kisaran netral, biasanya digunakan tangka netralisasi yang dilengkapi alat sensor pH untuk mengintrol kondisi hasil reaksi. Bahan kimia yang sering digunakan adalah asam kuat atau basa kuat, contohnya larutan kapur, soda kostik, natrium karbonat, asam sulfat, asam klorida, ataupun gas karbondioksida. Pengendapan dilakukan dengan mengubah bentuk logam yang ada ke dalam bentuk hidroksidanya melalui penambahan larutan kapur atau soda kostik dengan pertimbangan pH limbah haris netral. Koagulasi dan flokulasi digunakan untuk memisahkan padatan tersuspensi dari cairan dengan cara penambahan bahan kimia koagulan ke dalam limbah, koagulan ini berupa tawas, larutan kapur, dan lain-lain